[BeraniCerita #1] Terindah

[BeraniCerita #1] Terindah
credit
Saat malam tiba kami sudah sampai di kaki gunung dan mendirikan tenda untuk menginap malam ini. Api unggun cukup menghangatkan hawa dingin yang menusuk tulang dan menghangatkan mataku yang menatap bebas langit malam. 

“Bagaimana kondisimu?” Mas Awan mendekatiku dan memberikan jahe hangat dalam sebuah gelas alumunium lalu duduk tepat di samping kananku.
“Kamu puas dengan pendakianmu pertamamu? Sudah kamu temukan perbedaan pendakianmu ke puncak terjal ini dengan pengorbananmu mengubah dirimu selama 10 bulan ini?”
“Maksudnya apa mas? Aku gak ngerti.” Aku semakin tertunduk. Rasa capekku menguap begitu saja. Dan aku hanya bisa memainkan gelas yang dia berikan padaku.
“Bagaimana jika kamu terluka atas semua tindakan bodohmu itu? Kamu tidak perlu mengorbankan dirimu hingga jadi seperti ini. Kalau kamu kenapa-kenapa siapa yang mau tanggung jawab?” Dia berbicara dengan entengnya tanpa memperhatikan perasaanku. Dasar lelaki berhati dingin. Dia kembali melanjutkan kalimatnya.
“Aku tahu kamu bukan seorang perempuan tangguh yang bisa latihan fisik begitu kerasnya. Kamu itu cuma cewek manja yang lagi naksir sama kakak kelasmu. Kamu itu bodoh.”

“Memang aku bodoh, aku berusaha mengikuti semua latihan keras itu untuk mendapatkan perhatian mas Awan. Aku mengorbankan semua hobiku untuk berjuang keras di ekskul ini.
Tapi aku tidak pernah mengeluh dengan semua keputusanku ini mas. Aku berjuang untuk mempertahankan cinta yang mulai tumbuh di hatiku. Aku setia dengan semua pengorbanan ini.” Aku berusaha berbicara setenang mungkin dan aku sekarang tidak baik-baik saja. Aku ingin menangis. Oh tidak, air mata ini keluar begitu saja.

“Kamu tahu kenapa aku sangat tidak suka dengan sifat keras kepalamu ini?” Aku hanya diam. “Karena aku tidak mau kamu terluka, baik fisikmu maupun hatimu.”

Hening.

“Jangan pernah menjadi orang lain untuk mendapatkan cinta yang kau inginkan. Itu bukan cinta tapi ambisi. Aku tahu sejak awal tahu perasaanmu untukku. Pada akhirnya aku takut melihat semua pengorbananmu untukku. Aku takut kamu terluka. Aku takut kamu sakit. Dan aku lebih takut tidak bisa melihat senyum dan tawa gembiramu itu. Jadilah dirimu sendiri. Biarkan cinta itu yang memilihmu. Tidak ada yang lebih baik daripada mencintai dengan apa adanya. Aku minta maaf.”

Sekarang aku tahu hati itu memang bukan untukku saat ini, tapi aku merasa lebih baik dengan semua ini. Meskipun saat ini cukup sakit rasanya patah hati namun aku mendapatkan semangat baru dalam hidupku. Semua perjuanganku terjawab lengkap dengan proses yang sangat indah. Aku akan belajar mencintai orang lain dengan menjadi diriku sendiri. Mungkin cintanya akan memilihku suatu saat nanti.

“Biarkanlah bunga edelweis itu tumbuh abadi pada tempat yang semestinya. Bagiku, kamu adalah bunga edelweis terindah yang pernah ada.” Itulah kalimat terakhir mas Awan untukku malam itu dan berlanjut hening.


Note: 426 words
***
"Flash Fiction ini disertakan dalam Giveaway BeraniCerita.com yang diselenggarakan oleh Mayya dan Miss Rochma."

8 comments:

  1. Bagus :D kunjungin blog saya juga, ya! nattyral.blogspot.com :) makasih :D

    ReplyDelete
  2. Terima kasih mbak natania.. makasih sudah berkunjung..
    Saya siap meluncuuurrr kesanaa :)

    ReplyDelete
  3. jadi pingin nih belajar flash fiction, sudah pernah ikut kontes ya mbak???

    ReplyDelete
    Replies
    1. ini pertama kalinya saya ikut kontes mas Joe, dan tulisan ini flash fiction pertama yang saya buat..:)
      semangat belajarnya yaa.. makasih sudah berkunjung ^^

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^.^