[BeraniCerita#2] Menang

credit
Matanya menahan kantuk yang teramat sangat di tengah malam yang dingin ini. Hanya berselimutkan sarung tipis dan beralaskan tikar pandan yang sudah robek di ujungnya. Lampu teplok sudah semakin murung, minyak tanah di tabungnya semakin surut. Namun, semangat Bayu untuk menjejalkan kalimat demi kalimat dalam beberapa lembar kertas buram tetap terjaga. Sesekali dia berdiri dan mengayunkan tangan kanannya ke kanan dan ke depan wajah kusutnya. Kadang dia hanya terdiam menatap nyala api lampu teplok yang bergoyang tertiup angin malam. Dia sedang menghafal. Memahami makna tulisan di kertas yang dipegangnya.

Itulah aktivitas rutin Bayu selepas sholat isya’ hingga larut seminggu ini. Jejeran paragraf itu sedikit demi sedikit mulai dia lahap dengan sempurna. Tikar pandan dijadikan panggung, hingga dia bisa berjalan ke kanan dan kiri sesekali untuk memantapkan suara lantangnya. Jika adik-adiknya masih terjaga, maka Bayu akan berlatih membaca pidato di atas dipan dengan kasur yang sudah tipis. Dan suaranya akan semakin lantang mantap.

Tak jarang, ibu dan kedua adiknya menjadi juri dan penonton dadakan yang akan menilai pidatonya. “Abang Bayu pasti menang.” Celetukan adiknya selalu sama setiap Bayu selesai mendeklamasikan pidato dan meminta adiknya berkomentar. Bayu hanya tersenyum. Semoga.

Bayu kembali duduk dan melipat naskah pidatonya. Dimasukkannya ke dalam tas ransel usang kesayangannya. Nyala api dalam lampu teplok sudah padam. Bayu tertidup lelap di balik sarung lusuh dengan nyamannya.

***

“Bayu berangkat Mak, Bayu minta do’a supaya Bayu menang lomba di Kecamatan.” Bayu mencium tangan ibunya kemudian berangkat dengan melenggangkan kaki mungilnya menuju Kecamatan.
  
“Abang jangan lupa berdo’a ya...” Kalimat ibunya kembali teringat saat dia menginjakkan kaki kanannya di tangga pertama saat menaiki panggung pidatonya.

“Bismillahirohmanirrohiim.” Langkah Bayu semakin mantap ketika kakinya tepat di bibir panggung. Sedikit menghela nafas yang cukup dalam. Dia memulai pidatonya.

“Kejujuruan harus dimulai sejak kecil dan dari hal kecil, seperti contoh, tidak boleh curang saat ujian misalnya menyontek jawaban teman. Itu juga merupakan perbuatan tidak terpuji dan dibenci Allah…” Pidato Bayu sungguh lancar dengan logat medhok Jawanya. Gayanya masih sama seperti dia latihan selama seminggu ini diatas tikar pandannya. Tangannya terus diayunkan ke kanan dan ke depan, suaranya lantang dan mantap.

***

“Emak… Bayu juara satu mak...” Bayu berlari kedalam rumah dan menunjukkan piala serta amplop putih berisi lembaran uang kertas kepada ibunya.

***

Note: 368 kata


17 comments:

  1. ekspresi si emak...mesti semeringah ....beroles kebanggaan dan kebahagian :)
    #selamat bayu... :)

    ReplyDelete
  2. hasil yang melegakan dari usahanya yah :)

    ReplyDelete
  3. Pesannya tersampaikan dengan sempurna :)

    ReplyDelete
  4. Bagus ceritnya mbak, gak mengada-ada :D Sep

    ReplyDelete
  5. selamat ya bayu, kmu menang :D
    Bagi amplopnya donx :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih kakak..
      amplopnya uda dibuat beli lampu kak :D

      Delete
  6. selamat ya bayu, kmu menang :D
    Bagi amplopnya donx :D

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^.^