[BeraniCerita #13] Wawancara Kerja

Hari ini aku bangun lebih awal mendahului subuh. Aku mencoba untuk sedikit latihan berbicara di depan cermin. Dengan lantang dan tegas aku berbicara bak presenter handal yang sering aku lihat di layar televisi. Tak lama kudengar suara adzan subuh yang begitu nyaring dan merdu.

Setelan kemeja putih polos dan celana kain warna hitam serta rambut yang klimis telah siap menemaniku menjemput impian. Setelah kucium tangan lelah ibu dan bapak, aku beranjak pergi dengan hati yang sungguh buncah. Bismillahirrohmaanirrohiim. Langkah pertamaku mantap menaymbut mentari pagi yang memberi kehangatan di hati.

Pukul 8.30 pagi aku sudah duduk manis di ruang tunggu untuk menanti giliran wawancara kerja. Seorang laki-laki berjas hitam dan berkumis tipis terlihat memasuki ruangan yang mungkin akan menegangkan bagiku beberapa jam kedepan. Satu per satu peserta wawancara yang tak kala klimis dan cantik mulai masuk ke ruang wawancara. Dadaku semakin berdegup kencang menunggu giliran.

Muzakki Santoso… Peserta atas nama Muzakki Santoso.

Kepalaku sontak terangkat untuk mencari sosok yang sedang dicari oleh panitia wawancara. Diserunya nama itu berkali-kali namun tak kunjung kulihat empunya. Beberapa saat suara derap kaki yang padat dan lincah mendekat ke arah ruangan ini. Seorang laki-laki dengan rambut amburadul dan kemeja yang tak rapi dengan gesit muncul tepat di depan panitia. Wajah kesal tampak dari panitia wawancara kerja.

Semakin lama menunggu semakin gugup aku. Sudah lewat dari pukul 11.30, berarti sudah lewat pula dari jadwal wawancaraku yang seharusnya. Panitia wawancara pun muncul dan mengumuman sesuatu.

“Wawancara kita lanjut setelah ishoma ya…”

Aku mendoktrin pikiranku untuk positif, mungkin jadwalku memang tergeser. Aku akan menunggunya.

Pukul 16.30, itu adalah jadwal terakhir wawancara hari ini dan namaku masih saja belum dipanggil untuk wawancara. Akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya pada panitia tes.

“Maaf Mbak, nama saya kok belum dipanggil ya? Saya dapat giliran jam 11 siang tadi, Mbak.”

“Sebentar ya, Mas. Saya cek dulu jadwalnya. Atas nama siapa?”

Muhammad Wahyu. aku menyebutkan namaku dengan tegas. Kulihat dia sibuk membolak-balik buku catatannya untuk memastikan keberadaan namaku.

“Mas Wahyu kan jadwalnya besok jam 11 siang. Bukan hari ini, Mas.”

Jawabnya dengan memberikan senyum simpul. Dengan sedikit perasaan kecewa aku meninggalkan ruangan ini. Memang ini salahku, mungkin aku terlalu bersemangat. Dengan memberikan anggukan kepala tanda hormatku pada panitia, aku melangkah keluar dengan gontai.

Baru sampai belasan langkah aku meninggalkan ruangan ini, terdengar suara perempuan memanggil namaku.

“Kenapa Mbak?”

“Mas Wahyu bisa wawancara hari ini. Interviewer setuju untuk mewawancara Anda karena kegigihan Anda menunggu dari pagi.”

“Wah, terima kasih banyak ya Mbak…”

Sambutku menjabat tanganya dan berjalan mantap ke ruang wawancara.

*****
415 kata

16 comments:

  1. “Mas Wahyu bisa wawancara hari ini. Interviewer setuju untuk mewawancara Anda karena kegigihan Anda menunggu dari pagi.” --->> agak jarang ada yang mau merhatiin kek gini

    btw kenapa ada dua tokoh? didepan namanya muzzaki dibelakang namanya wahyu? apa salah baca?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Muzakki itu salah satu tokoh pendukung cerita

      Delete
  2. kurang cetar! *hlah aku juga ga bs bikin yg cetar*

    ReplyDelete
  3. kalau wawancara bisa di reschedule, tergantung pihak HR'a ada kerjaan atau kagak, tapi kebanyakan sih kagak, hehehe
    kalau interview kagak pernah rapi2 saya mba, soalnya memang selalu dapat tempat kerja yang bisa bilang formal & tidak formal deh :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahah.. iya sih mas.
      kalo saya yang penting goodlooking dan tergantung perusaahnny apa :)

      Delete
  4. kok kurang greget mbak?
    lagi bad mood ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. lagi buntu otaknya, hambar kurang garam :)

      Delete
  5. nama tokoh emang udah benar, muhammad wahyu. Muzakki Santoso itu nama pelamar kerja lain yang dipanggil panitia. *lha, kok saya yang jadi juru bicaranya ya? hehe.

    oke, komenku sih...ceritanya datar. (maafff) plus ada beberapa kesalahan ketik dan penggunaan kata sambung yang belum tepat. sebaiknya diedit ulang sebelum di-post yaaaa...

    salam.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya.. garamnya ketinggalan mas.. heeuuu.. ntr bikin lagi deh

      Delete
  6. jadi pelajaran yang bisa dipetik, bila kita sabar, maka akan mendapat "balasan"nya...iya ga ya?

    ReplyDelete
  7. Logat mbak coro endi iku? Coro tegal po ngapak? Bhahaha, komen opo iki!

    ReplyDelete
  8. Alhamdulillah, nggak usah balik lagi besokannya ya.. :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^.^