[BeraniCerita #15] Ironi

Kalau saja aku tak kabur dari rumah.
Mungkin aku tak akan menikmati masa putih biru-ku bersama mereka yang telah memberiku tempat berteduh. Meski hanya beralas kardus dan berselimut sarung lusuh yang kupungut dari gerobak pak tua yang sedang menggigil kedinginan di ujung toko seberang. Ah, jangan tanya mengapa. Mungkin, merekalah yang tak mengerti jalan seperti apa yang ada di kepalaku.

Kalau saja aku tak kabur dari rumah.
Mungkin aku tak akan bertemu dengan bidadari cantik yang setiap pagi rela bersalaman dengan gemuruh kereta api hanya untuk mendidihkan air bakal kopi pahitku. Sementara aku, duduk ditepi pagar besi dan memeriksa senar gitar usang yang kudapat di toko Bang Apoi, seratus lima puluh ribu. Cukup mahal bagiku.

Kalau saja aku tak kabur dari rumah.
Mungkin tak akan kudengar emosi juniorku yang sedang berjuang membelaku. “Bapak Re bukan penjahat! Bapak Re itu orang baik, kalian yang jahat!” begitulah. Mungkin juga aku tak akan mendapat surat peringatan beruntun karena Re terlambat melunasi uang SPP di sekolahnya. Ah, atau mungkin juga aku tak akan melihat kepala Re harus dijahit berulang kali.

Kalau saja aku tak kabur dari rumah.
Mungkin aku tak akan melihat Re menjadi bengal sepertiku dulu. Sudah dua gadis mengadu pada istriku sambil tersedu. Re telah memberiku dua cucu padahal usianya belum genap dua puluh. Sungguh, itulah yang dulu pernah aku lakukan pada istriku. Re memang anakku, mirip sepertiku.

Kalau saja aku tak kabur dari rumah.
Mungkin aku tak akan melihat kuburan istriku yang selalu kutabur bunga sembarang setiap minggu. Meski telah kuberikan satu ginjalku untuk menebus berpuluh obat di rumah sakit yang katanya bisa menyelamatkan nyawa bidadariku. Tidak, mereka bohong. Tuhan telah mengambil ratu hatiku saat usia senja mulai menyapaku.

Kalau saja aku tak kabur dari rumah.
Mungkin aku tak akan melihat kembali koleksi perjalanan kelam hidupku. Cahaya yang membawaku melihat jutaan memori masa lalu membuat hidupku kini semakin pilu. Partikel cinta yang telah dikobarkan bapak ibuku tak pernah kugugu. Sekarang hanya ada kebaikan tetanggaku, bertalu-talu mereka mengerubungiku. Gendang telingaku berdesing, mendengar segerombolan mulut membicarakanku.

“Kemana si Rehan? Seharusnya dia mengaji untuk bapaknya yang sudah sekarat ini!”

“Panggil saja imam di mushola seberang, kita bayar dia agar mau membacakan do’a  untuknya. Biar kalau mati gak gentayangan!”

Kalau saja aku tak kabur dari rumah, waktu itu.

*****
373 kata

27 comments:

  1. Kalo aku sekarang jadi males mikir twist. Yang penting bikin bhahahaks (noichil memang ndak punya ambisi)
    Nice story, Ayu ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. heheheh.. kalo gak ngtweist gak jadi FF nanti mbak :D

      Delete
  2. penyesalan memang selalu datang terlambat..hiks..

    ReplyDelete
  3. hidup adalah pilihan, dan kadang kita memilih yang salah ...
    ceritanya bagus ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. kadang pada saat memilih kita menganggap pilihan itu benar :P

      Delete
  4. inilah kenyataan, artikel nya bagus, enak membacanya. Salam.

    ReplyDelete
  5. Kalo aja gue gak maen ke sini, pasti gue gak bisa ngeliat perjalanan hidup ngalir dengan keren kayak gini! Thumbs up... ^_^

    ReplyDelete
  6. Kalau saja judulnya Kalau Saja Aku Tidak Kabur dari Rumah ...

    Lumayan laah

    ReplyDelete
  7. ah suka, walupun akhirnya sedih :(

    ReplyDelete
  8. Ah... Sedih kisah si bapak ini.. :(

    ReplyDelete
  9. suka suka sukaa..
    salam kenal ya ayu,aku suka baca ceritanya :p

    ReplyDelete
  10. Kmrn udah baca tp komen susah. skrg bs komen. yey *geje

    Jangan menyesali hidup apalagi disaat terakhir. Eh

    ReplyDelete
  11. Duh...asyik bgt bacanya. Keren lho cerita ini, aku suka, mengalir dan bikin pembaca terbawa suasana *tsaaah*. Keep writing ya ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahhh.. senengnya.. pas lai Oke ini otaknya hihi
      makasihbanyak Mbak Rin :)

      Delete
  12. Keren yu suka banget, ceritanya ngalir sampe gak sempat kesandung neh hehe

    ReplyDelete
  13. wah ... pantas saja jadi juara ya...
    sarat bener ceritanya... padahal pendek, ringkas dan seumpama prosa...
    seperti monolog
    ..
    tapi hebat....

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^.^