[Review] Adriana, Labirin Cinta di Kilometer Nol


Judul buku : Adriana, Labirin Cinta di Kilometer Nol

Penulis : Fajar Nugros, Artasya Sudirman

Penerbit : Lingkar Pena

Tahun terbit : 2010

Tebal : 400 halaman


ADRIANA, Labirin Cinta di Kilometer Nol adalah sebuah novel yang menceritakan perjuangan cinta seorang mahasiswa, Mamen namanya. Dan gadis yang membuat dia jatuh hati adalah Adriana, yang dia temui di lift perpustakaan nasional saat Mamen sibuk mencari bahan untuk skripsinya. Pertemuan mereka bermula saat Adriana menjatuhkan bukunya dengan sengaja di lift yang otomatis membuat Mamen bergerak membantunya. Mamen pun bertanya apakah ada kesempatan bagi mereka untuk berjumpa lagi. Jawaban gadis yang menjadi pujaannya tersebut malah membuat Mamen stress.
“Jika karpet itu berganti lima kali, aku akan menjumpaimu di tempat dua ular saling berlilitan pada tongkatnya, saat Proklamasi dibacakan.”
Satu per satu teka teki bermunculan saat Mamen tidak berhasil menemukan Adriana membuatnya kian pusing karena semasa SMA dia tidak mengerti pelajarang sejarah.
"Harinya adalah tiga hari setelah Fatahillah mengusir Portugis dari Pelabuhan Sunda Kelapa. Masanya sampai pada Perang Diponegoro. Namun orang-orang merana itu tahu, saat mati, jasad mereka akan merana terkubur jauh dari tanah tumpah darah mereka sendiri. Aku yang menunggumu adalah Adriana, pada mimpinya yang tak pernah mati.”
Patung demi patung, tempat bersejarah, museum, bahkan kuburan Belanda pun menjadi tujuan Mamen mengejar cintanya pada Adriana. Untungnya ada Sobar, sahabatnya pun Adriana, yang membantunya memecahkan teka teki walaupun Sobar menunjukkan tempat yang salah pada Mamen. Dilain pihak, Adriana juga mendapat teka teki dari seseorang yang kemungkinan besar bukan Mamen.

Cinta segitiga kah?


Review:


Novel yang unik, menggabungkan sejarah kota Batavia, yang sekarang bernama Jakarta, dengan kisah cinta anak muda. Awalnya saya tidak berharap banyak pada novel ini, karena membelinya pun hasil diskon yang penting ada yang dibaca. Tapi pas dibaca bikin nagih. Gaya bercerita asyik, tidak bertele-tele, kadang kocak, tapi mudah untuk dimengerti. Kali pertama membaca buku sejarah yang dikemas dengan unik yaitu teka-teki dan dibumbui kisah cinta. Ini yang membuat saya betah untuk tetap membaca buku ini hingga akhir, tidak bikin bosan.

Walaupun kisah cintanya standar saja tapi penuh dengan kejutan seperti Adriana yang sengaja menjatuhkan buku, Adriana yang telah mengenal Mamen, Sobar yang menunjukkan tempat yang salah pada Mamen, atau tentang reinkarnasi seorang Adriana van den Bosch. Teka-teki dan kejutan yang diberikan membuat saya semakin penasaran untuk terus membacanya. Kadang, saya juga mencoba menebak teka-teki dengan kembali mencari kebenaran sejarahnya.

Mungkin karena novel ini ditulis oleh 2 orang dengan gaya yang berbeda jadi ada dua kali kata ganti orang pertama, yaitu aku si Mamen dan aku si Adriana. Sayangnya bagian kedua seperti mengulang cerita namun ditambahkan dengan jawaban-jawaban dari bagian pertama. Tapi apapun bentuk dari novel ini tetap membuat saya takjub. Dan, endingnya keren!

Ada satu kutipan yang saya suka,
"Tapi tahukah kamu kalau kita adalah penentu jalan yang kita tempuh? Tuhan memberi pilihan, karena percaya kita akan bertanggung jawab atas keputusan yang kita ambil". 

12 comments:

  1. Jd kita di sini blajar tentang pilihan yg kita ambil #Manggut2

    ReplyDelete
  2. Di awal novel aja udh diberi teka-teki. Dijamin bikin penasaran dan membuat pembaca tidak berhenti membaca untuk dapat menemukan arti teka-teki tsb :o

    ua ular saling berlilitan pada tongkatnya tu ky lambang kedokteran di apotik2. ahaha
    Mungkin tempatnya di fakultas kedokteran saat ada upacara bendera di minggu ke-5 setelah pertemuan mereka. #ngarang mode on :D

    ReplyDelete
  3. Kamu kan udah selesai mbaca, boleh dong kirimin ke aku. :))

    ReplyDelete
  4. Temanku pernah cerita tentang buku ini. Tapi aku belum sempat baca. Jadi penasaran buat baca cerita lengkapnya...

    ReplyDelete
  5. wah jadi penasaran nih pengin beli ini buku :3

    ReplyDelete
  6. hmm, kayaknya sih memang yang unik kalau melihat batavia jaman dulu digabung dengan anak muda.
    wah, cukup tebal juga ya 400 halaman..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^.^