Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana

Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana menjadi tujuan berikutnya dalam jawdal bulan madu kami. Pesona dan kemegahan patung yang super tinggi dan besar itu membuat saya ingin melihat secara langsung. Kami berangkat pukul 10 pagi dari Villa Tukad Alit dan memakan waktu sekitar 45 menit, jika dari pantai kuta mungkin setangah jam. Lokasi Garuda Wisnu Kencana berada di Jalan Raya Uluwatu, Badung, Bali. Cukup mudah untuk menjangkaunya, karena arahnya melewati kampus Udayana. Meskipun jalannya tidak terlalu besar tapi tetap saja ramai oleh berbagai macam turis. Namanya juga lokasi wisata, haha.

Amphitheater Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana
Hello! Welcome to Amphitheater GWK. Gak afdol kalo gak selfie berdua, hehe.

Setelah sampai di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana, kami langsung membeli tiket untuk 2 orang seharga masing-masing 50 ribu rupiah. Saat itu pengunjung cukup sepi dan lebih banyak turis dari luar terutama dari Korea, dan yang membuat saya takjub adalah kemampuan masyarakat lokal yang fasih berbahasa asing. Saya yang hampir 4 tahun berinteraksi dengan orang Korea malah belum bisa apa-apa, huh. Setelah masuk, kami langsung menuju Amphitheater untuk melihat pertunjukan tari Bali yang merupakan rangkaian dari daily event di Amphitheater GWK. Saat di depan Amphitheather, telinga kami langsung disuguhi dengan merdunya gamelan Bali yang di bawakan oleh lebih dari 10 orang. Satu orang bertugas sebagai narator yang berbicara dengan bahasa Bali. Untungnya kami diberikan selembar kertas yang berisi ringkasan cerita dari tarian yang dibawakan.

Mungkin karena weekday jadi sepi pengunjung, tapi pertunjukan tetap berlangsung berapa pun jumlah pengunjung yang hadir. Semua pertunjukan di dalam Amphitheather tidak dipungut biaya apapun alias gratis. Tarian yang sempat kami saksikan adalah tarian selamat datang atau Welcoming Balinese Dance yang dibawakan oleh 5 orang penari cantik yang sungguh gemulai. Saya selalu takjub dengan kemampuan mereka memainkan kepala dan mata bak bolo-bolo, hehe. Selanjutnya adalah Tari Topeng Monyet dan Tari Barong.

v
Bapak-bapak di balik merduanya suara gamelan dan alat musik tradisional Bali, mirip dengan Jawa, ya.
Beberapa dari mereka ada yang memainkan alat musik tanpa melihat, pandangan mata ke penari atau penonton. Udah hapal kali ya karena bermain setiap hari.
Balinese Dancer
Para penari pembuka yang sudah gemulai dan cantik. Paling suka kalo mereka menggerakkan mata dan kepala, keren. Langsung kekep suami gak boleh lihat, haha
Tari topeng monyet
Ini pertunjukan Tari Topeng monyet. Awalnya agak geli dengan topeng yang dikenakan oleh penari. Lucu tapi serem, serem tapi lucu. Dan gayanya pun gokil seperti foto di atas.
Tari Barong
Tarian terakhir adalah Tari Barong. Perhatikan foto fokus pada kepala Barong, itu bisa diangkat ke atas dan dipindah lagi ke depan. Suara giginya Barong yang menurut saya rada serem.
Tari Barong
Tapi akhirnya kami bisa berfoto dengan Barong. Untuk foto dengan para penari bayar seikhlasnya, uangnya dimasukkan ke dalam mulut si Barong, sama halnya dengan penari lainnya.

Setelah melihat rangkain pertunjukan tari di Amphitheather GWK, kami melanjutkan perjalanan ke atas untuk melihat kemegahan patung Garuda Wisnu Kencana. Iya, kami berjalan menapaki tangga demi tangga dengan cuaca yang cukup menyengat panasnya dan saya harus mengenakan sweater. Sebenarnya itu sweater punya si mas sedang saya mengenakan baju terusan dengan manset di dalamnya, and he start to complain about my way to dresses. Tapi karena saya tahu menutup aurat adalah wajib, jadi ya dibetahin dulu panas dengan baju serba hitam, hehe.

Setelah sampai di Taman Wisnu, saya ingin segera menyentuh Patung Wisnu yang sudah berlumut dan seperti tidak terawat. Awalnya, saya berpikir bahwa patung yang ada di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencanaa adalah patung yang terbuat dari batu atau gunung yang dipahat sedemikian rupa hingga menjadi sebuah patung. Namun, salah. Patung Wisnu terbuat dari cetakan dan dalamnya kosong seperti membuat patung dari cetakan koran. Seperti halnya Patung Garuda, rada nyesel sih karena tidak sesuai dengan bayangan saya selama.

Taman Budaya Garuda Wisnu KencanaTaman Budaya Garuda Wisnu Kencana
Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana
Romantisme di depan Patung Garuda, kali ini tak sensor biar yang belum kawin gak mupeng, hehe.
Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana
Di belakang patung Garuda terdapat sebuah lahan kosong yang berisi rangka dan cetakan patung yang sudah berantakan. Sayang sekali kalo tidak diteruskan, mungkin terkendala oleh biaya, kali ya. Tapi kan tiket masuknya mahal dan cukup banyak turis yang datang, hhmmm.
     Taman Budaya Garuda Wisnu KencanaTaman Budaya Garuda Wisnu Kencana

Setelah itu kami berjalan-jalan di sekitar taman yang cukup luas. Berdecak kagum dengan keindahan batu kapur di sekeliling yang seperti terbelah. Di depan Taman Garuda juga disediakan permainan bernama Segway dengan tarif 50 ribu untuk beberapa kali putaran, mahal bok, jadi kami langsung turun ke bawah untuk makan siang. Di depan Amphitheater juga disediakan Street Theater yang menceritakan kisah Garuda Wisnu Kencana. Setelah makan siang, sekitar jam 2 siang kami kembali melihat pertunjukan theatrical Garuda Wisnu Kencana. Sebenarnya ada pertunujukan Tari Kecak jam 6 sore, tapi kami lebih memilih untuk melihatnya di Pura Luhur Uluwatu.

Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana
Maket patung Garuda Wisnu Kencana. Semoga suatu saat nanti bisa terwujud.

23 comments:

  1. Ahhhhhhh, seru banget ituu..
    Kapan aku bisa ke Bali? huhuhu

    ReplyDelete
  2. Andai saja itu bukan sesi bulan madu mba gendhiss aku pengen ngikut dehhhhh :g hihihi

    ReplyDelete
  3. Tiba tiba fokus ke tangan,,,itu henaa nya masih ada ya yu,,,awet juga

    ReplyDelete
  4. Loh kenapa ditutup itu adegan hotnya? Aku kan dah married, pengin lihat hihhihiiii.... Waktu ke GWK dulu kemaleman, dpt pertunjukan terakhir tp gak naik, lha mau lihat apa. Akhirnya mamam aja di Jendela.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwk maklum banyak yg masih single pengunjung blognya hihihi..
      aku makan di dekat amphitheater aja mbak gak sempet ke jendela.

      Delete
  5. bali memang pas ya buat bulan madu, banyak tempat wisata asik , sayang saya dua kali ke bali acara kantor, blm pernah berdua suami. oh ya waktu saya GWK pas ga ada event jadinya cuma makan dan beli oleh-oleh plus foto2 aja

    ReplyDelete
  6. Seru banget mbak jalan-jalan berdua sama yang sudah halal hehehe, salam kenal ya mbak! :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaa lebih aman dan nyaman.. salam kenal juga mbak :)

      Delete
  7. Ah, BALI!!

    Sayangnya waktu study tour tahun lalu ke sana kurang puas ih. Masih banyak tempat-tempat yang belum dikunjungi ya salah satunya GWC ini. Hvft! :(

    Seru ya di sana :))

    ReplyDelete
  8. Niatnya sih ada ke bali tapi belum kesampaian.....semoga tahun ini bisa tercapai

    ReplyDelete
  9. Replies
    1. hahaha.. mbak Lia sama suami gihh bulan madu lagii :p

      Delete
  10. Asyik bner bulan madunya, ya. :D
    Lumayan bisa lihat tari, ya. Meski di sisi lain kuciwa2. :)

    ReplyDelete
  11. Hai mba, salam kenal. mba, kalau misalnya saya menonton tari barong siang hari, lalu saya keluar dari gwk, jalan2 disekitar misalnya, lalu malamnya saya masuk lagi untuk menonton tari kecak,, apakah saya harus bayar tiket lagi?

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^.^