Politik Bergoyang

Politik Bergoyang
sumber
Tidak biasanya saya berbicara tentang politik yang sedang panas di Indonesia, saya itu orang yang paling males berbicara tentang politik. Bisa dikatakan saya ini benci dengan urusan politik. Kenapa saya bisa seperti ini padahal saya dulu bisa dibilang aktivis kampus yang sekarang sudah pensiun dari urusan seperti itu. Dulu, saya memang suka dengan hal berbau politik, tapi harus bersih. Saya tidak mau ada hal kotor dalam dunia yang saya ikuti. Sejak terjadi kasus politik bergoyang dan beberapa kasus yang bisa dibilang tindak anarki, saya mulai berpikir, bagaiamana bisa golongan orang yang punya tujuan yang sama harus beradu untuk mendapat kedudukan?

Politik bergoyang yang saya maksud adalah karena uang, urusan hukum yang bisa dimanipulasi dengan uang. Bagaimana bisa sebuah organisasi mahasiswa mendapat dana dari parti politik? Untuk urusan apa? Untuk tujuan yang seperti apa? Kenapa pegawai partai itu harus masuk ke dalam tubuh mahasiswa yang harusnya berkembang apa adanya, bukan secara instan karena uang. Lalu bagaimana dengan politik dalam skala pemerintahan? Bissa dibilang carut marut, bukan? Ya, saya melihat secara sederhana dalam kacamata sebagai salah satu warga Indonesia. Melihat sedemikian bejatnya oknum politik merusak Pancasilsa hingga kehilangan kekuatan untuk menuntun masyarakat. Kaum elit yang seakan masa bodoh dengan kehadiaran Pancasila dan lebih mengutamakan membuat kenyang perut sendiri. Ya lihat saja, kasus korupsi semakin menjadi, prostitusi seakan menjadi santapan setiap hari. Nyatanya, oknum bejat tersebut masih bisa tetap hidup tanpa rasa belas kasih.

Soal hukum bisa dipastikan akan terasa tumpul untuk kaum elit dengan syarat adanya uang. Polisi bisa membuat tahanan bebas, bandar narkoba bisa tetap bekerja di dalam sel penjara, mobil mewah tanpa plat nomor bisa berleha di jalan protokol, motor bisa masuk jalan tol. Yang kaya semakin kaya, bukan? Asal manut apa kata "bos" mah hidup bakal tenang. Lalu bagaimana dengan runcingnya hukum untuk warga kecil? Nyolong kayu di halaman orang saja bisa di penjara sekian tahun, lalu bagaimana dengan oknum yang sudah membuat kaum kecil mati kelaparan? percuma dong ya sekolah tinggi, melahap berbagai macam buku politik, ujung-ujungnya dibuang begitu saja tanpa diaplikasikan. Jangan ditanya soal salon atau hotel mewah yang bisa masuk ke dalam sel penjara, coba dilihat banyak anak negeri ini tidup tanpa atap atau bahkan di bak sampah. kalau politik sudah digoyang ya mau gimana lagi, saatnya menyelamatkan diri sendiri. Itu yang sedang terjadi di negeri ini.

Saya bukan menyalahkan pemerintah saja yang tidak becus mengurusi negara, tapi dari rakyatnya juga, dari segi manusianya. Tidak cuma rakyat kecil, rakyat besar juga. Oknum bejat seperti itu bisa terjadi di semua lapisan masayarakat kalau urusannya sudah menyangkut uang. Memperbaiki pun dari personal masing-masing. terkesan klise, ya? Memang, tapi kalau pondasi itu terbangun dengan baik dan kokoh, tidak akan ada yang namanya politik bergoyang. perkuat pondasi, perkuat iman.

15 comments:

  1. Politik itu penuh intrik dan rekayasa, apalagi di negeri tirani. Wes tidak bisa membayangan ketidakadilan terus menyengsarakan rakyat. Makanya mbak, paling males ngikutin peristiwa politik yang lagi carut marut disini hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup, beberapa oknum memang memanfaatkan hanya untuk kepentingan pribadi

      Delete
  2. bicara soal politik uang, di daerah aku sendiri masih banyak yang kayak gitu, dan itu justru diawali oleh pihak masyarakatnya sendiri yang masih punya pemikiran kalau nggak pakai uang, nggak berhasil... hmm..... PR besar untuk negeri ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. i see,, yang dipilih yang ngasih uang, biasanya begituuu

      Delete
  3. Baik. Saya mencoba untuk juga ikut menambahi. Hehe. Menurut saya, yang perlu diperhatikan lebih adalah, pendidik negeri ini. Kalau generasi sekarang sudah rusak, maka repot-repot memperbaikinya malah susah untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, karena sudah begitu mengakar kuat, menjadi sitem. Tapi, kalau tenaga serta pikiran dikerahkan sebesar-besarnya untuk memperhatikan generasi berikutnya, maka kebersihan politik nowadays bisa hilang seiring waktu.

    Nah, parahnya, masa ini, setidaknya pas jaman saya sekolah, guru-guru yang bersahaja, yang kita semua menyebutnya pahlawan tanpa tanda jasa, yang menanamkan banyak pemahaman baik, justru di saat ujian akhir secara masif mengajarkan murid-muridnya untuk bertindak curang. Mungkin ini terlihat sepele, tapi secara mental bagi murid-murid, efeknya sangat besar. Kami sudah susah sekali percaya adanya kejujuran.

    ReplyDelete
    Replies
    1. benerrr bangeetttt.. apalagi oknum guru-guru sekarang gak bisa mendidik secara moral, yg mereka pikir cuma akademik tapi kelakuan rada-rada.

      Delete
  4. Yang abadi dari politik (dimanapun) itu adalah kepentingan. Politik kelihatan menarik hanya jika sudah menjadi sejarah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya mbaakk,,terlalu banyak kepentingan yg merusak

      Delete
  5. hehe... sabar mbak... cie yg dulunya aktivis kampus...
    ya demokrasi mbak, bikin semua nya bejat...

    ReplyDelete
  6. dari politikus kampus jadi penulis dan ibu rumah tangga yang baik #Goodjob

    ReplyDelete
  7. dulu aku masuk ke Ilmu Politik, untung saja ke luar, gak ngerti deeeh kalau masih kuliah di politik kemariiin, hihiii

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^.^