Bagasi Pesawat 100 Kilo

Setelah diputuskan harus mengundurkan diri dari Samsung dan diputuskan pula untuk segera pindah ke Sampit oleh sang suami, maka hal yang harus dipikirkan dan ditindak lanjuti dengan cepat adalah membereskan semua barang yang ada di dalam kamar petak alis kos yang nyatanya begitu banyak. Padahal saya keluar rumah sakit tanggal 29 Juni malam hari dan harus terbang ke Sampit tanggal 1 Juli pagi hari. Puyeng dah gimana caranya bawa barang-barang yang telah saya kumpulkan selama hampir 4 tahun tinggal di Cikarang. Sedikit untung karena saya sudah nyetok 4 kardus besar hasil jarah dari kantor, hehe. Malam itu juga setelah keluar rumah sakit, kami berangkat ke kosan saya dan mulai mengepak barang-barang yang sekiranya bisa di bawa ke Sampit, padahal menurut saya, barang-barang itu harus dibawa semuanya, huhu. Suami pun gak mau kalah dan gak mau repot dengan harus membawa begitu banyak barang kenangan saya. Sempat eyel-eyelan dulu mana yang mau ditinggal.

Satu kardus dan satu koper besar telah terisi oleh baju, baju, dan baju, dan jilbab. Ya gimana ya, namanya juga perempuan, stok baju dan jilbabnya pasti banyak walopun saya selalu berkata baju dan jilbabnya kurang. Ada beberapa potong baju dan jilbab yang saya tinggal yang sekiranya tidak akan saya gunakan lagi, ya ditinggal begitu saja di dalam kardus, biarkan asisten kosan yang mengurusi mau dibuang ya silahkan, mau diambil ya oke saja. Kardus kedua berisi alat elektronik seperti blender, mixer, dan magic com, ada juga 3 paket gelas yang saya dapatkan secara gratis. Membawa alat elektronik memang sedikit berisiko, takut pecah atau penyok jika dipaketkan dan hanya dibungkus kardus biasa. Kalo mau ditinggal kan ya tidak mungkin, karena alat-alat tersebut bagai nyawa untuk saya, haha. Sebelumnya saya memang sering kirim-kirim alat elektronik dengan berbagai macam pengiriman, kirim televisi dari Cikarang ke Lamongan menggunakan salah satu jasa pengiriman sebut saja je-en-e yang Alhamdulillah aman karena diproteksi dengan kayu. Pernah juga membawa televisi dan oven via bagasi pesawat hanya dengan dilapisi buble wrap di dalamnya. Akhirnya saya pun pede dengan tatanan alat elektronik di dalam kardus, daripada ditinggal. Saya bokk, alat rumah tangga begitu.

Kardus kedua dan ketiga berisi buku dan printilan yang tidak boleh saya tinggal, sebut saja piring, timbangan, kipas angin, dan macem-macem lah. Dan ada tambahan satu kardus kecil seukuran kardus air mineral botol 1,5 liter yang berisi boneka, haha. Suami sih aslinya pengen boneka-boneka itu ditinggal tapi saya bilang kalo boneka itu dia yang membeli akhirnya kalah juga haha. Semua kardus tersebut saya lapisi dengan plastik wrap yang biasa digunakan untuk makanan, satu gulung plastik wrap untuk satu kardus. 

Dan yang menjadi masalah adalah dengan cara seperti apa kardus-kardus ini harus saya kirim ke Sampit?

Saya pun menghubungi beberapa ekspedisi kargo yang ada di Cikarang, dengan saran salah satu teman yang pernah kirim paket dalam jumlah besar ke Balikpapan yaitu menggunakan Dakota karena murah. Setelah saya hubungi, ternyata, jika destinasi adalah Sampit maka rutenya tidak bisa langsung dikirim ke Sampit, melainkan ke Banjarmasin terlebih dahulu. Jadinya ongkos kirim pun semakin mahal dengan waktu tiba kurang lebih 2 minggu. Dakota pun gugur. Pilihan kedua adalah Lorena, sepertinya menggunakan bus yang nyebrang dengan kapal feri. Dan, harga pun lebih mahal meskipun hanya butuh waktu satu minggu saja. Pilihan terakhir adalah bagasi pesawat. Saya pun menghubungi customer service Kalstar untuk menanyakan harga tambah bagasi karena tidak dicantumkan di situsnya. Harga lebih murah dan sampai saat itu juga bersamaan dengan waktu tiba saya.

Estimasi berat semua kardus saya adalah 100 kilo dan setelah melakukan perhitungan untung rugi, memang lebih untung menggunakan bagasi pesawat. Sampai di bandara ada seorang bapak-bapak yang ngakunya dari kedutaan mencoba memberi bantuan untuk memasukkan kardus ke dalam bagasi tiga orang yang dia bawa, karena ketiga orang tersebut tidak memiliki bagasi. awalnya saya dan suami tertarik karena bisa menghemat ratusan ribu, tapi akhirnya kami urungkan karena tiga orang tersebut tidak ada di konter cek ini dan dia hanya utusan mereka, takutnya nanti ribet waktu datang. Tapi ada seorang ibu yang membantu satu koper ke dalam bagasinya, lumayan hemat 15 kilo. Setelah ditimbang, total bagasi kami adalah 97 kilo, hahaha. Pengen ketawa dan nangis dalam waktu bersamaan, tapi untungnya masih kurang sedikit dari estimasi awal dan emua bagasi pun sampai dengan selamat di Sampit. Ya, mau gimana lagi, yang penting kan barang terangkut, itu pun ada banyak barang yang saya tinggal yaitu 2 rak buku, lemari, karpet, panci, wajan, dan masih banyak lagi, hehe.

Excess bagasi Kalstar
Excess bagasi Kalstar

19 comments:

  1. Hahaha... kalau di angkut semuanya ampe sisa-sisanya di kost, bisa-bisa suami geleng-geleng kepala lihat tingkah istrinya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halooo, Kak! Yuk, ikutan Lomba Blog "Terios 7 Wonders, Borneo Wild Adventure".

      Tiga blogger terbaik akan diajak menjelajah Kalimantan dan berkesempatan mendapatkan grand prize, Macbook Pro.
      Info selengkapnya: http://log.viva.co.id/terios7wonders2015

      Jangan sampai ketinggalan, ya!

      Delete
    2. @TimurMatahari.. hahha kan sayang kalo ditinggal, barangnya beli dan kadang berarti penuh memori hahaah

      Delete
  2. Serem banget ngeliat tiket kelebihan bagasinya *Ngakak*

    ReplyDelete
  3. ckckckkkk,.... banyak banget bagasinya y mak, tp begitulah perempuan kan melankolis bgt sm barang2 pribadi/kenangan ya xixixii...pokoknya kudu di bawa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. benerr mbakk.. gak rela kalo uda mahal2 beli akhirnya ditinggal hihi

      Delete
  4. Perempuan itu makhluk yang paling ribet apalagi sama barang-barang lengkap deh pokoknya :))

    ReplyDelete
  5. Wiiihhh...bner2 gak tanggung2 ini mah hahhaa...

    ReplyDelete
  6. Dan kebingungan selanjutnya adalah untuk meletakkan barang-barang tersebut di tempat yang "baru" :D

    ReplyDelete
  7. salut liat mbak ini, pastinya suaminya juga salut, terkadang urusan pindahan malah suami yang repot ini malah istrinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh jangan salah, suamiku loh yang repot, aku mah tinggal nyuruh ini itu, suami yg kerjain hahahah

      Delete
  8. Loh, nggak bisa cargo ya? Aku udah pindahan antar pulau bbrp kali pakai cargo dr maskapai yg sama, jadi semua kebawa krn jauh lebih murah dibandingnya excess bagage. Memang nggak jaminan bisa datang bareng kita, tp kalaupun selisih waktu nggak lama kok, cek dulu sama maskapainya supaya nggak kecele. Jadi waktu mau check in, aku belok dulu ke terminal cargo. Setelah beres, baru ke terminal penumpang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah itu mbak, karena kemaren ndadak banget gak kepikiran buat hubungi kargo, pikirku pasti mahal juga karena pernah masukin tipi di kargo dann itu mahal banget

      Delete
  9. Ribet ya pindahan
    Saya juga mengalami kerepotan ketika pindah dari Balikpapan ke Cimahi, dari Palembang ke Surabaya hehehe
    Salam hangat dari Jombang

    ReplyDelete
    Replies
    1. wihii pakde juga nomaden ya waktu muda dulu..

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^.^