[Review] Nasi Itik Gambut Tenda Biru

Warung Makan Nasi Itik Gambut Tenda Biru
Warung Makan Nasi Itik Gambut Tenda Biru
Nasi Itik Gambut Tenda Biru – Pergi berlibur tidak lengkap rasanya jika tidak menikmati kuliner daerah setempat yang menyimpan rasa khas yang mungkin saja belum pernah kita makan sebelumnya. Sayangnya, saya sendiri tinggal di Sampit yang penuh dengan masakan Banjar dari segala penjuru daerah, jadi sudah pernah mencicipi cita rasa masakan Banjar. Tapi apa boleh buat jika makan dari tempat asalnya langsung, kan, ya. Dari rekomendasi beberapa teman, makanan khas banjar yang wajib dicoba adalah ketupat Kandangan yang sayangnya sudah sering saya santap saat sarapan di Palangkaraya. Makanan selanjutnya nasi itik Gambut yang menjadi tujuan kami untuk sarapan di Banjarmasin, sedangkan untuk sate dan makanan lainnya tidak kami coba karena waktu yang terbatas dan bisa ditemukan di Sampit, hehe.


Sarapan nasi itik Gambut Tenda Biru menjadi pilihan kami karena satu arah menuju Martapura yang menjadi tujuan wisata kami, postingan tentang Martapura selanjutnya, ya. Disebut sebagai nasi itik Gambut karena lokasinya ada di daerah Gambut, hehe (alasannya serius, lho) dan pilihan kami jatuh pada warung Tenda Biru karena yang paling terkenal. Lokasinya ada di jalan A. Yani KM 14 Gambut, Banjarmasin. Setelah sampai di lokasi, ternyata jauh dari bayangan saya yaitu di sebuah tempat wisata di seberang sungai besar dan ternyata aslinya hanya di seberang jalan raya antar kota. Area parkir yang mengambil sisi kiri jalan cukup luas dan sudah banyak sekali mobil dan motor yang terparkir rapi sekitar jam 9 pagi. Warung nasi itik Tenda Biru seperti halnya warung makan biasanya, sederhana (bukan kelas restoran) tapi luas dan banyak sekali pengunjung yang datang. Karena saking banyaknya pengunjung dan tidak ada kipas angin jadinya suasana menjadi cukup panas. Nasi bungkus dijejer di depan warung dan pengunjung memesan sesuai permintaan. Menu lauk yang disediakan beragam mulai itik, ikan haruan, telur/intalu, hati, dan rempela dengan range harga 13 ribu hingga 17 ribu. Dan pilihan kamu semua adalah nasi itik. Setelah memesan, kami mencari tempat duduk yang sudah cukup penuh lalu ada seorang ibu yang membawa es teh atau teh hangat dan pengunjung tinggal memilih. Saatnya membuka nasi itik yang dibungkus daun pisang!

Penampakan nasi itik bumbu merah versi manis
Penampakan nasi itik bumbu merah versi manis
Jrenggg... ternyata isinya hanya nasi dan itik yang dibumbui, tidak ada tambahan seperti sayur atau lauk pendamping. Padahal saya kira akan ada sayuran atau mi goreng seperti halnya nasi bungkus, hehe, banyak maunya ya diriku. Rasanya, seperti bumbu balado atau bumbu merah versi manisnya, maka dari itu disediakan sambal di setiap meja. Jadi rasanya sama seperti nasi kuning Banjar, lauknya dibumbu merah tapi manis, yang sering saya santap di Sampit. Mungkin uniknya ada di penggunaan itik sebagai lauk dan disantap saat sarapan. Karena rasanya nasi itik sudah familiar di lidah, jadi tidak ada kesan khusus yang saya dapatkan. Dari segi penampilan juga kurang menarik, sih, hanya dibungkus begitu saja apalagi tanpa sayuran dan lauk pelengkap. Kesimpulannya, harganya mahal, hehe.


Yang sedikit membuat saya jengkel adalah sampah daun bekas pengunjung selanjutnya tidak langsung dibersihkan sebelum pengunjung lain datang, mungkin karena saking banyaknya pengunjung. Saat dibersihkan pun ala kadarnya dan sampah daunnya ‘diseret’ ke keranjang sampah yang ada di bawah meja bagian ujung, keranjang sampah penuh baru diambil. Meja pun tidak dilap dengan bersih. Yaaa.... meskipun kelasnya warung makan tetap harus menjaga kebersihan demi kenyamanan pelanggan apalagi warung makan nasi itik Gambut Tenda Biru ini sudah cukup terkenal. Awalnya mengira hanya saya yang rewel karena hamil, tapi suami yang kurang perhatian terhadap kebersihan juga merasakan hal yang sama. Kesimpulan akhirnya saya berikan bintang 6/10 untuk warung makan nasi itik Gambut Tenda Biru dari segi rasa, penampilan, dan tempat makannya. Usut punya usut, ternyata harga di warung makan ini paling mahal diantara warung nasi itik Gambut lainnya. Jika penasaran, silakan dicoba. Terakhir, mohon maaf karena foto cuma ada dua karena tiba-tiba memori kamera rusak dan selalu minta diformat.

40 comments:

  1. hemm kalo mampir ke blog mba Ayu ini aysik juga apalagi seringnya bahas soal makan.
    pas pertama baca kirain ke bawahnya bakalan spesial gitu, eh gak taunya cuma nasi sama itiknya doang segitu tanpa ada sayur atau apalah pendamping yang lain.
    kalo menurutku juga segitu dan ternyata cuma kek gitu kamahalan. seharusnya biar lebih seru itu dikasih sayur atau apalah sebagai pendamping.
    penampilanya juga menurutku kurang menarik, tapi rame juga ya mba tempatnya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. mungkin karena tujuan wisata mas jadinya dimahalin, kalo aku sih pilih sego pecel heheh

      Delete
  2. Walau ratingnya 6/10, tetep pengin nyoba. Itik sama kayak bebek nggak, ya?

    ReplyDelete
  3. Kalau mau di seberang sungai atau di tepi sungai coba soto Banjar Abang Amat atau soto Banjar Bawah Jembatan, Mbak. Di Banjarmasin letaknya. Saya waktu mau ke pasar terapung di lok baintan start-nya dari Soto Banjar Abang Amat. Jadi waktu pulang dari pasar terapung langsung nyantap soto :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah gak sempet nyobain soto banjar bang amat, sudah pernah makan soto banjar soale mbak tapi di sampit hehe

      Delete
  4. Di liat-liat ko kaya nasi padang ya mba hihihi

    ReplyDelete
  5. bungkus daun sebenarnya jadi poin plus karena bisa bikin rasa makanan jadi gimaaanaaa gitu... beda deh... Tapi sayangnya si yg punya tempat gak mau nyediain lebih banyak tempat sampah. Dan pengunjung juga gak mau susah kali ya... Yg bete pengunjung berikutnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. lebih sedep emang pake daun daripada kertas ya mbak, hehe,, ah iya aku sebel banget pas liat bungkus2 nasi belum diberesin

      Delete
  6. Nasinya udah komplit ada lauknya ya, cuma sayang mestinya disediakan sayur buat lalapan di meja dan enggak cuma sambal aja, hihiii... kok saya juga banyak maunya ih.

    ReplyDelete
  7. Wah sekarang mah jarang jarang ya mbak yang pakai daun pisang buat makanan. Ini bisa menjadi nilai tambah ke tradisionalanya :-)
    Wah mbahas masalah kuliner, ane inget kalau sekarang waktunya makan :D :D Hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku sering liat makanan pake daun pisang jadi gak merasa spesial heheh

      Delete
  8. Ternyata ada kuliner nasi itik, baru denger malah, soalnya saya cuma tau ada nasi kucing, nasi uduk, nasi goreng dan masakan padang... :D . thanks infonya yah, nambah pengetahuan

    ReplyDelete
  9. Nasi bungkus kian bervariasi lauknya sekarang..bukanncuma secuil babdeng sama sambal atau oseng.

    ReplyDelete
  10. hmm, boleh juga tuh ya mbak. cukup worth it sepertinya :)
    nice review buat review kulinernya mbak..

    ReplyDelete
  11. Jiahh.. Beneran.. Bikin kangen masakan Kalimantan nihh.. . Mana lama banget nggak makan bebek lagi.. T_T

    ReplyDelete
    Replies
    1. hayukk ke kalimantan lagi, kalo blm ada waktu beli penyetan bebek aja hehe

      Delete
  12. Itiknya kelihatan enak tapi kurang sayur aja ya.
    Btw nama tempat makannya romantis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. itiknya enak mbak kalo ditambah sambel, kalo gitu aja manis :)

      Delete
  13. Keliatannya enak ya, Mbak.
    Penampakannya menurutku agak mirip nasi gudeg :D

    ReplyDelete
  14. Di seberang ada nasi itik mama Baiti lebih enak ada acar kol dan wortel tambahannya, sdh coba lontong orari?

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah kaannn.. berarti emang tenda biru biasa aja yaa

      Delete
  15. waduh...masih pingin balik lagi kesana nggak mbak hihihi...

    ReplyDelete
  16. Ketika membaca judulnya, aku sangat tertarik berkunjung ke postingan ini. IYa, karena judulnya ada warna birunya. Wwkwkwkw....

    Wah, tempat makan ini Mba Yu bintangin 6/10. Memang paling ngeselin kalau dtng ke tempat makan, tapi sisa makanan bekas orang gak langsung diberesin. Itu udah terlihat kebersihannya sangat kurang menurut aku. :/

    ReplyDelete
    Replies
    1. apa template blogku tak ganti biru ya biar kamu betah? haha

      ngeselin banget nui, mentang2 uda terkenal dan banyak pengunjung, harusnya makin perhatian dengan sampah

      Delete
  17. makanan banjar emang banyak yang nggak pakai sayur sih mbak. akunya juga terbiasa nasi + lauk doang. waktu aku kuliah di jakarta, teman kos sering ngomen soal kebiasaanku makan cuman nasi lauk aja. hehehe.

    salam dari Kandangan, mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh begitu toh faktanya, agak aneh aja sih makan tanpa sayur hehe..

      salam dari sampit #udabalik :)

      Delete
  18. kalau saya makan di gambut, malah lebih suka makan nasi itik yang diseberang tenda biru, hahaha,

    ReplyDelete
    Replies
    1. duh, jadi nyesel pilih tenda biru, review banyakan disini sih jadi pilih ini

      Delete
  19. Ini warung terkenal banget padahal IMHO sih biasa aja hehe..

    ReplyDelete
  20. dikemas dengan daun pisang yah... pasti aromanya mantap

    ReplyDelete
  21. kalau membersihkan oleh pegawai terasa kerepotan. karena pengunjung yang terlalu banyak. mungkin untuk jangka panjang, pembeli perlu diedukasi utuk membersihkan sampahnya masing masing ya

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^.^