2.15.2016

Pasar Terapung Muara Kuin yang Terancam Punah

Pasar Terapung Muara Kuin yang Teracam Punah
Pasar Terapung Muara Kuin yang Teracam Punah
Pasar Terapung Muara Kuin yang Terancam Punah – Atau yang sering disebut dengan pasar terapung sungai Barito karena posisinya berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin Banjarmasin. Termasuk salah satu destinasi wisata yang sejak dulu ingin sekali saya kunjungi terlebih lagi pasar ini pernah menjadi maskot salah satu televisi swasta yang terkenal dengan jempolnya itu. Disebut sebagai pasar terapung karena semua transaksi jual beli berada di atas perahu atau jukung (dalam bahasa Banjar) karena memang pada jamannya Banjarmasin mendapat julukan sebagai kota seribu sungai sehingga aktivitas dilakukan melalui jalur air. Sayangnya, pasar terapung muara Kuin ini saya masukkan dalam kategori yang terancam punah karena beberapa hal.
Untuk mengunjungi kawasan wisata pasar terapung muara Kuin harus menyiapkan diri sebelum subuh, karena pasar tersebut hanya buka pada pukul 5 hingga 7 pagi waktu Indonesia barat. Sayangnya saya dan suami berangkat bersama beberapa rekan lainnya yang terhitung ngaret jadi kami sampai pasar sekitar pukul setengah tujuh. Untungnya jarak pasar dengan hotel kami menginap hanya sekitar 15 menit dan suami memacu mobil dengan kecepatan cukup tinggi. Sampai di kawasan sungai, akan banyak orang yang menawarkan perahu, tanpa banyak pilih suami berhenti di salah satu dermaga yang punya tempat parkir luas (di halaman rumah orang, hehe). Pemilik perahu menawarkan harga tiga ratus ribu rupiah untuk menuju pasar terapung muara Kuindan singgah ke Pulau Kembang untuk melihat ekosistem monyet. Suami menawar dan sepakat pada harga dua ratus lima puluh ribu, sewa perahu ini tanpa batas waktu jadi sesuai permintaan kami saja asal tujuan tetap di pasar terapung dan Pulau Kembang. Ternyata perjalanan dari dermaga menuju pasar terapung cukup jauh meskipun kami menggunakan perahu motor masih menyita waktu lebih dari 15 menit. Alhasil kami sampai saat pasar sudah mulai bubar dan menyisakan beberapa penjual saja.
Rombongan lain yang sedang bertransaksi
Rombongan lain yang sedang bertransaksi, saya agak ngeri dengan orang-orang yang berada di atap perhau tersebut, takut tergelincir, hehe
Penjual buah di pasar terapung sungai Barito
Penjual buah di pasar terapung sungai Barito
Salah satu pedagang yang hendak pulang
Salah satu pedagang yang hendak pulang
Pedagang makanan dan kue yang akhirnya kami hampiri
Pedagang makanan dan kue yang akhirnya kami hampiri
Cara membeli menggunakan tongkat berpaku
Cara membeli menggunakan tongkat berpaku
Baca Juga : Sakralnya Tanah Lot

Dari beberapa pedagang tersebut beberapa yang kami jumpai adalah penjual sayur, buah, ikan, kebutuhan rumah tangga, makanan, aneka kue, topi tradisional, dan lainnya. Ada beberapa pedagang yang masih menjalankan sistem barter antar pedagang. Yang unik adalah cara membeli barang dagangan, pedagang akan melemparkan kayu yang ujungnya terdapat paku lalu pembeli mengambil dagangan melalui tongkat kayu tersebut. Mungkin hal tersebut berlaku saat posisi pedagang dan pembeli berjauhan, tapi karena penasaran, saya pun mencobanya meskipun perahu kami saling berdempetan, hehe. Harga kue (wadai, dalam bahasa Banjar) terbilang murah, sih, seribu rupiah saja, cukup lah untuk mengganjal perut di pagi hari.

Hal yang mungkin cukup disayangkan adalah lokasi pasar terapung muaraKuin ini sendiri, yaitu berada di tengah pemukiman dan industri kayu gelondongan sehingga terlihat kumuh. Melihat warna air saja sudah terkesan kumuh ditambah lagi dengan tercemarnya lingkungan sekitar dengan kayu-kayu yang berserakan. Belum lagi sepanjang mata memandang harus melihat warga sekitar mandi, cuci baju, dan sebagainya. Duh, mata saya berdosa melihat bapak-bapak atau mas-mas yang sedang mandi hanya dengan celana dalam saja, hiks, mbok ya ditahan dulu mandi dan cuci bajunya hingga pasar bubar, haha. Itulah alasan saya memasukkan wisata pasarterapung muara Kuin ini dalam kategori terancam punah, sepertinya, kok, tidak terjamah oleh pemda setempat agar dilestarikan. Seharusnya kan tempatnya eksklusif, kalau bisa jauh dari industri kayu gelondongan agar tetap bersih. Pengunjung masih banyak yang datang, lho, hanya saja mungkin mereka sama kecewanya dengan saya yang mehilat kondisi pasar tersebut. Sedih, sih, pas bisa datang berkunjung pas kondisinya sudah memprihatinkan seperti ini. Semoga pemda setempat tidak hanya memikirkan kemajuan daratan, sungai pun harus diperhatikan agar sejarah tidak pernah hilang. Setelah dari pasar terapun Muara Kuin, perahu kami berangkat menuju sisi lain sungai Barito yaitu Pulau Kembang, nantikan di postingan selanjutnya.

Di sekeliling banyak sekali anak kecil yang mandi di sungai ini
Di sekeliling banyak sekali anak kecil yang mandi di sungai ini
Foto bapak/mas yang mandi diganti foto anak kecil ini saja, ya? hehe
Foto bapak/mas yang mandi diganti foto anak kecil ini saja, ya? hehe

38 comments:

  1. Memangnya sungai tersebut nggak dalam ya mba banyak anak kecil yang terjun secara bebas disana takutnya kenapa-napa hihihi *baper

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, kayaknya sih gak seberapa dalam mbak, airnya keruh soale

      Delete
  2. Harusnya objek seperti ini bisa dijaga oleh pemerintah setempat, Yu. Bisa jadi aset wisata, liat dua foto terakhir kok miris ya. Gak sedap banget pemandangannya. Apa perlu pasar terapung ini direlokasi. :)))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harusnya, Da, tapi apa mau dikata.
      Beuh, itu baru dua poto, coba kalo liat sendiri, geliiiiii :D

      Delete
  3. Keren banget. Aku dulu pernah baca tentang eksistensi pasar ini. Sampai yg "RCTI OKE" pakai pasar apung ini bukan, Ay? Kayaknya kehidupan mereka guyub gitu ya di perairan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mbak, yg jadi slogan jempol, eman ya mbak

      Delete
  4. Terus..ujung pakunya ditancepin ke kue atau gimana? Kuenya rusak nggak bentuknya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyappp, mbak, rusak sih enggak, cuma takut tetanus hehe

      Delete
  5. Katanya di siring juga ada wisata naik kelotok ini cuma aku juga blm pernah coba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di seberang Masjid Sabilal Muhtadin yang ada patung Bekantan gedhe

      Delete
    2. Hooo tau kayaknya, sempat beberapa kali lewati patung bekantan, trus pagi2 sempat lihat pasar apung juga di sungai tengah kota dan lebih rame!

      Delete
  6. Sayang sekali ya Mak. Kudunya dilestarikan ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eman bangeetttt.. kayak gak diurus, syediihh

      Delete
  7. Sayang banget ya kalau punah, padahal itu masuk kekayaan budaya. Kebetulan pernah ke Kuin, saudara suami ada yg disana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, kan uda terkenal sejak dulu, saya aja berprinsip harus kesini tapi sayang kecewa

      Delete
  8. Fotonya bagus-bagus loh mbak, menarik dan inspiratif.
    Bisa jadi destinasi wisata belanja itu..

    ReplyDelete
  9. Replies
    1. Buru-buru gih kesana mbak sebelum lenyap :(

      Delete
  10. Aaah, jadi pasar ini ya yang ada di RCTI waktu itu ._. dulu kayaknya rame ya mbak ._. sekarang udah sedikit sepi :(

    ReplyDelete
  11. Dari dulu pengin banget ke pasar terapung sejak lihat iklan salah satu stasiun tv swasta. Sukaaa banget, lha ini kk posting ginian aku jadi makin pengin ke sini :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayukk liburan, Uni, sebelum tempatnya semakin menghilang :D

      Delete
  12. Ahhh teringat ma RCTI zaman dulu. Dulu pas aku kecil, pingin banget ke pasar ini. Sampe gedhe juga belum keturutan >,<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insyaallah nanti ada rejeki berkunjung ke Banjar ya mba nisa :)

      Delete
  13. Wah seru banget, jadi pengen ke Banjar lagi supaya bisa mampir di pasar apung :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dulu uda pernah ke Banjar, Rud? gak kesini?

      Delete
  14. padahal seru banget ya... sayang banget klo sampe ga terurus dan punah :(

    ReplyDelete
  15. Anak-anak itu nyaman banget berenangnya, padahal airnya kotor, hihiii

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku geli banget loh mbak, soale di sebelah yang mandi ada yg nyuci baju, di sebalh lagi ada WC hehe

      Delete
  16. semoga ya pemda nya lebih peka. Ini kan aset wisata daerah dan Indonesia. aaah jangankan sungai barito di banjar. Sungai kapuas di pontianak juga tercemar mbak. Sedih sedih. hiks T^T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayaknya sungai besar emang kurang diperhatikan ya sekarang, alhamdulillah di sampit sungai mentaya jadi pelabuhan

      Delete
  17. Pertama kakli tahu pasar terapung dr jingle iklan RCTI jaman dulu.
    Semoga pemerintah segera tanggap dengan aset wisata yg satu ini ya Mak :)

    ReplyDelete
  18. aku gak bosen2 liat foto2 di postingan ini. Bagus2 dan menangkap suasana di sana... sayang ya kalau smp terancam punah... Sementara org jauh2 dtg ke Bkk utk lihat suasana seperti ini. Padahal di dalam negeri ternyata ada

    ReplyDelete
  19. Ada buaya gak di sungainya :O *salah fokus* hahaha

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^.^