Tahun Baru, Rejeki Baru, Tanggung Jawab Baru

Patung Ikan Jelawat, ikon Kota Sampit
Patung Ikan Jelawat, ikon Kota Sampit
Tahun Baru, Rejeki Baru, Tanggung Jawab Baru – Ini adalah postingan pertama di tahun 2017, menyempatkan diri disela-sela ‘bermain’ dengan anak dan aktivitas pindahan rumah dalam rangka suami yang kena mutasi. Beberapa bulan terakhir ini memang aktivitas ngeblog sedikit terhambat, disamping karena sudah malas gerak sejak ngurus anak, terputusnya akses wifi juga membuat semakin malas, kode untuk suami agar pasang wifi lagi, hehe. Tepat di awal tahun baru, kabar bahagia datang pada keluarga kami atas seijin Allah yang Maha Kuasa. Suami akhirnya mutasi! Ada beberapa orang yang merasa tidak bahagia dengan adanya mutasi ini, tapi Alhamdulillah pindahan kali ini membawa rona segar bagi kami karena mutasi ke kota yang lebih ramai dibanding Sampit, yaitu Palangkaraya.

Baca Juga: Gerhana Matahari Total di Sampit

Sebelum bekerja di Sampit, suami saya sudah beberapa kali pindah lokasi kerja yaitu Makassar, Banjarbaru, Palangkarya, lalu Sampit. Lokasi kerja baru otomatis jabatan baru dengan disiplin ilmu yang baru pula. Kalau kata suami, tidak masalah jika harus belajar disiplin ilmu baru karena bisa semakin menambah wawasan dan mengerti segala bidang pekerjaan. Tanggung jawab baru bagi suami dengan bidang kerja yang lebih luas tapi tetap saja merupakan sebuah rejeki luar biasa bagi kami. Ditambah lagi bisa pindah ke Palangkaraya yang notabene sudah ada investasi rumah pribadi disini. Rejeki baru lainnya ternyata suami dapat undian hape di koperasi kantor area baru, padahal beberapa hari lalu saya dan suami baru saja mencari promo hp samsung. Alhamdulillah dapat rejeki hape samsung J1 Ace.

Sembari menyelesaikan dapur, kami masih wara wiri Sampit – Palangkaraya karena belum semua barang dipindah, bahkan kami sempat tidur di hotel selama 1 minggu saat baru benar-benar datang di Palangkaraya (mungkin akan saya ceritakan dalam postingan sendiri sekaligus review hotel Neo Palma Palangkaraya). Jika suami punya tanggung jawab baru dalam pekerjaannya, begitupun saya, bukan? Hmm, apa ya tanggung jawab ibu rumah tangga pengangguran seperti saya ini, hehe?

Baca Juga: Sedihnya Tinggal di Sampit

Saat di Sampit saya sangat bergantung pada suami bahkan untuk hal remeh seperti ganti tabung gas sekalipun, kadang jika anak rewel maka suami akan saya minta untuk pulang ke rumah, hehe. Untungnya, saat itu jarak rumah dan kantor suami hanya kurang lebih 5 menit berkendara motor, jadi setiap saat bisa pulang ke rumah, makan siang selalu di rumah, minta ini itu selalu datang tepat waktu bagaikan ojek delivery, hehe, kecuali jika suami sedang tugas lapangan. Iya, saya memang semanja itu karena lingkungan di sana memang tidak mendukung bagi saya untuk kluyuran sendiri. Sedangkan di Palangkaraya ini, jarak rumah ke kantor suami cukup jauh dan secara fasilitas lebih cukup memadai jadi saya harus bisa lebih mandiri. Mulai membiasakan diri makan siang tanpa suami yang berarti tanggung jawab mengurus anak dari pagi hingga sore sepenuhnya ada pada saya. Jujur saja, mengurus satu bayi yang baru 7 bulan ini sungguh menguras tenaga karena si bocah sudah merangkak dengan cepat dan mulai minta berjalan, ampun!

Termasuk tanggung jawab segala urusan rumah tangga yang cakupannya lebih besar dari sebelumnya. Contoh remehnya, jika dulu ngepel hanya beberapa petak, sekarang jadi lebih luas, hehe. Namanya rumah tangga memang harus saling membantu dan bekerjasama dari hal sepele hingga hal yang tidak bisa disepelekan. Saya dan suami sama-sama bertanggungjawab menjalankan roda rumah tangga.

Baca Juga: Tempat Ngeblog Favorit di Sampit

Untuk saat ini masih wara wiri Sampit – Palangkaraya, Insyaallah awal februari sudah menetap di Palangkaraya, doakan segala urusan pindahan dan pembangunan dapur beres tanpa halangan. Selanjutnya untuk (mungkin) 2 tahun ini kami sekeluarga akan tinggal di Palangkaraya dengan tanggung jawab baru masing-masing. Dan Insyaallah siap jika suami harus mutasi lagi ke kota lain jika bukan pedalaman Kalimantan, hehe. Rasanya saya sudah bisa menerima kenyataan bahwa suami akan terus berpindah-pindah untuk mengemban tanggung jawab dan rejeki baru hingga pada masanya akan berhenti jika pensiun.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, silakan tinggalkan komentar Anda ^.^